Senin, 08 Mei 2017

Trip Trooper di Tanah Puang to Sanggalangi' Desa Pantilang Kecamatan Basse Sangtempe Utara Kab.Luwu

oleh :
Wini Artiwi (#2)


Berbagi adalah salah satu langkah untuk menunjukkan bahwa sebagai makhluk sosial kita peduli, peduli akan alam, lingkungan dan juga masyarakat.
Masyarakat yang saya spesifikkan menjadi dua berdasarkan tempat tinggalnya:
-Masyarakat Perkotaan dan,
-Masyarakat Desa Terpencil.
Melihat masyarakat dalam satu sudut pandang pendidikan, tak dipungkiri bahwa ada yang kurang dan mungkin telah menjadi wabah bagi generasi, seperti contoh yang belakangan ini gencar dikampanyekan oleh pemerintah, Narkoba di Kalangan Pelajar, Seks bebas, Tawuran dan Kenakalan remaja lainnya.
Dalam hal ini terkadang para elit politik hebat berdebat, mengatakan siapa yang salah dan siapa yang benar, sedang kita hanya senantiasa menjalani hidup tanpa ingin mendebatkan masalah itu.

Sebagai pelajar di salah satu Universitas di Kota Palopo, saya hanya ingin menuangkan apa yang ingin saya lakukan, berbagi dengan kemampuan saya dalam bidang Pendidikan, jika sendiri mungkin saya tak mampu dan mungkin dengan bersama pemuda lainnya yang satu pemikiran dengan saya bisa mewujudkan apa yang ingin saya lakukan. (TRIP TROOPER)
(sedikit torehan buat pengantar saja hehehe....)

"Sangtirodoan ting-ting, sangtirimbakan pajo-pajo, sanginno'nian la'pa-la'pa"
Semboyan Masyarakat Basse sangtempe.
Jumat, 5 Mei 2017:
Saya bergabung dengan  Trip Trooper sejak Bulan oktober 2016, dan merupakan pengalaman pertama berkunjung ke salah satu Desa yang lumayan jauh dari perkotaan tepatnya Desa Pantilang, Kec. Basse Sangtempe Utara, Kab.Luwu (sekitar 30km dari kota Palopo).
 (Salah satu Pemandangan yang bisa kita dapatkan di Desa Pantilang)

Perjalanan kami mulai dari Kota Palopo, menggunakan Truk sewa dengan mengocek Rp 50.000/org, (untung setiap kegiatan drop buku ini sebelumnya kami melakukan penggalangan dana dengan menjual Kue ataupun makanan yang hasilnya untuk kegiatan ini).

(siapppp!!!! cuzzzzzzzz.......)

Tepat Pkl 11.00 WITA, dengan berjuta pertanyaan dalam hati apa yang akan saya temui di Desa tujuan, saya meneguhkan tekad serta berdoa dalam hati, Dengan modal semangat dari ke 5 anggota Trip trooper lainnya (Ulfa, Ammy, Acid, Selfi dan kak Wawan) sayapun siap untuk menghadapi Desa Pantilang.(semacam mau pergi perang...). dan kami pun berangkat


(jalanan ke Bastem, sumber; google dan potret sendiri)
Perjalanan menuju Desa Pantilang membutuhkan waktu sekitar 3-4jam(Mobil), setelah Melewati Desa Bonglo' dan Uraso  akhirnya kamipun tiba sekitar Pkl 14.30 WITA, di rumah Bapak Yulius Lawapadang, yang sebelumnya sudah kami konfirmasi melalui anaknya Jepri dan Mega Anaknya yang berada di kota Palopo, kamipun disembut dengan senyum ramah seperti orang yang sudah lama berkenalan, setelah bercengkerama sebentar, kamipun langsung disuguhkan makan siang (mereka tahu klo kami kelaparan) lalu mempersilahkan kami untuk beristirahat.


(Bersama Bpk.Yulius, Istri dan Anaknya Icha)
setelah cukup beristirahat, Pkl 16.00 kami menuju salah satu rumah Pemerintah setempat(Sekertaris Desa Pantilang) Bpk.Daud Sanggola, karena sebelumnya kami sudah konfirmasi Kepala Desa Pantilang yang saat itu tidak berada ditempat, berjalan sekitar 500m dari kediaman rumah Bpk.yulius akhirnya kami tiba, melihat desain rumah yang tidak asing seperti rumah-rumah adat yang ada di Toraja terlintas di pikiran saya, mungkin Bapak Sekdes adalah salah satu Tokoh adat di BASTEM, kamipun langsung menemui beliau, memberikan surat pemberitahuan kegiatan dan berbincang tentang niatan kedatangan kami di Desanya.

(Bersama Sekdes Pantilang, Bpk Daud Sanggola(ke2 dari kiri))

setelah berbincang cukup lama dengan pak sekdes, kamipun pamit untuk pulang karena sudah maghrib, kami masih memiliki agenda setelah makan malam yakni konfirmasi kepada Kepala sekolah SD 50 Pantilang (Ibu Albert). Setelah makan malam, kamipun menuju kerumahnya yang jaraknya cukup jauh dibandingkan rumah Sekdes, senyum ramahpun menjemput kami tanpa sungkan mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam rumahnya dan bercengkrama, yang kami bahas tentu saja tentang apa yang ingin kami lakukan selama di desa Pantilang, terutama di sekolah yang beliau pimpin. setelah banyak bertanya, iapun memberikan kami ijin untuk melaksanakan kegiatan disekolahnya yang kami niatkan di pagi dan sore hari. setelah berbincang kamipun kembali kerumah Bpk.Yulius dan menutup malam dengan rasa lelah.

(Bersama Kepala Sekolah SDN 50 Pantilang) tengah.

Sabtu, 6 Mei 2017:
Pkl 05.30 kami sudah bangun, shalat subuh dan bersiap2 udara yang dingin dan sejuk memberikan kesan tersendiri yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, karena jarak sekolah yang cukup jauh kamipun harus mempersiapkan diri lebih awal, setelah sarapan kamipun berangkat ke sekolah barengan dengan Icha yang sudah kelas 6SD,  jarak sekolah sekitar 1km dari tempat tinggal kami...
(Menuju ke Sekolah.....yuhuuuu)

setelah tiba disekolah, kami konfirmasi kepada guru-guru untuk memulai kegiatan dan....kamipun masuk ke kelas..



(Bersama Guru-guru SDN 50 Pantilang)


setelah masuk mengajar dan Sosialisasi dengan adik-adik SDN 50 Pantilang, kamipun kembali kerumah dan kembali lagi ke sekolah pada Pkl 15.30 WITA seperti yang sudah kami janjikan kepada mereka dan kegiatanpun berlangsung..



dan akhirnya, kebersamaan yang singkat dengan adik-adik SDN 50 Pantilang berakhir, kami berharap bisa lebih lama lagi belajar dan bermain bersama mereka namun waktu yang tidak memungkinkan kami untuk tinggal lebih lama, dikarenakan Skripsi yang deadline....:'(

walau hanya sebentar, kami berharap apa yang dilakukan bersama-sama ada manfaatnya dan sedikit memberikan kesan kepada mereka bahwa Pendidikan itu Menyenangkan :)...


(menyempatkan foto-foto bareng di tempat2 eksotis Pantilang)



Minggu, 7 Mei 2017:
hari terakhir kami di Desa Pantilang, sebelum kembali ke Kota palopo kami menyempatkan ke Pasar tradisional yang diadakan seminggu sekali, untuk membeli bahan makanan Tradisional KAPURUNG..........

(Pasar Tradisional Desa Pantilang)tiap hari Minggu.



 'To be Continued.......................................




Selasa, 02 Mei 2017

Logo Baru Trip Trooper Palopo

Logo adalah suatu identitas yang dipergunakan untuk menggambarkan citra dan karakter suatu Lembaga/Organisasi/Perusahaan.

Maka dari itu, Trip Trooper Palopo sebagai salah satu Organisasi Sosial yang bergerak di bidang Sosial Pendidikan memandang perlu untuk membuat Logo baru agar lebih dapat menggambarkan karakter dari Trip Trooper ini sendiri.

Makna Logo :

Jejak Telapak Kaki : Menggambarkan seseorang yang melakukan sebuah perjalanan, namun kami lebih memaknai tentang kondisi para siswa-siswi di Desa terpencil yang jarang menggunakan alas kaki menuju ke Sekolah.

Buku Terbuka: Menggambarkan identitas dari seseorang yang sedang membaca/menggali ilmu (menambah pengetahuan), dan juga disini kami lebih memaknai tentang capaian kami yakni membawa buku-buku serta mengajar apa yang kami ketahui untuk adik-adik di desa terpencil.

Trip Trooper: Trip/ melakukan perjalanan, Trooper/ Pasukan. dan kami memaknai Trip Trooper sebagai pasukan yang melakukan sebuah perjalanan yang mempunyai tujuan dalam hal berbagi pengetahuan, serta menggali ilmu dari berbagai macam karakter Masyarakat desa terpencil.

terkait dengan perubahan logo ini, Logo sebelumnya kami ganti karena alasan tertentu, dan perubahan ini dilakukan pada Tanggal 09 Januari 2017 pada Rapat Setengah Kepengurusan.

Senin, 10 April 2017

Pendidikan #3 TRIP TROOPER PALOPO



Trip Trooper
Sebuah Organisasi Sosial yang bergerak di bidang Sosial Pendidikan yang gerakannya yakni membawa buku dan mengajar di desa-desa terpencil se Luwu Raya.

Kaderisasi bisa diibaratkan sebagi jantungnya sebuah organisasi, tanpa adanya kaderisasi rasanya sulit dibayangkan suatu organisasi mampu bergerak maju dan dinamis. Hal ini karena kaderisasilah yang menciptakan embrio-embrio baru yang nantinya akan memegang tongkat estafet perjuangan organisasi. Kaderisasi berusaha menciptakan kader yang bukan hanya hebat dalam mengerjakan suatu program, tapi lebih dari itu. Kaderisasi haruslah mampu menciptakan kader yang memiliki jiwa pemimpin, memiliki emosi yang terkontrol, kreatif dan mampu menjadi pemberi solusi untuk setiap permasalahan, harus memiliki mental yang kuat  dan  yang terpenting dapat menjadi seorang teladan bagi anggotanya. Dalam proses kaderisasi ada dua ikon penting, yaitu Pelaku Kaderisasi (subjek) dan Sasaran Kaderisasi (objek).


31 Maret- 2 April 2017,
Pendidikan #3 (Perekrutan Anggota) Trip Trooper Palopo kali ini, kami laksanakan di Kampung Siguntu Kel. Latuppa, Kec. Mungkajang Kota Palopo di rumah salah satu, Kampung Siguntu ini adalah salah satu kampung yang berada di pinggiran Kota Palopo yang berbatasan dengan Kec. Bastem Utara kab. Luwu.
Melewati agrowisata Latuppa dan sekaligus jalan Poros Palopo-Bastem.

Selama 3 hari 2 malam para pengurus dan calon anggota Trip Trooper menghabiskan waktunya di salah satu rumah warga di Siguntu, dimana selain menerima materi seperti Sosial Pendidikan, Kesekretariatan, Social Travelling dll, pengurus dan juga calon anggota bermain games dimana tujuannya tidak lain untuk mengikat keakraban antara satu dengan yang lain.

Dalam proses sharing di Pendidikan #3 kami laksanakan di sebuah rumah panggung terletak ditengah hutan dan agak sedikit jauh dengan rumah-rumah warga lainnya, dapurnya masih menggunakan dapur alam mengunakan kayu bakar, letaknya berada di pinggir sungai yang airnya masih sejuk dan tentunya bersih.




Tujuan pendidikan ini, bukan sebagai ajang untuk memperlihatkan Senior/Junior melainkan saling bertukar pengetahuan dalam dunia Pendidikan karena mereka yang bergabung adalah para pemuda yang berjiwa sosial dan ingin mendedikasikan waktunya untuk sedikit berbuat kepada masyarakat desa terpencil khususnya di wilayah Luwu Raya.

Dalam tahapan proses pendidikan ini juga, kami langsung memberikan tantangan kepada calon anggota baru, yakni dengan mengajar di sekolah terdekat. Mereka meminta izin secara langsung kepada Pihak Sekolah agar setidaknya diberikan Izin untuk mengajar dan walhasil......tadaaaa....



Mereka diijinkan dan para murid juga antusias menerima pelajaran dari para calon anggota baru.

Mereka yang mengikuti proses Perekrutan anggota antara lain :

  1. Lukman Budiarto (Mahasiswa Semester 8 Universitas Cokroaminoto Palopo, Jurusan FKIP Bhs. Inggris);
  2. Nurkia (Mahasiswa Semester 8 Universitas Cokroaminoto Palopo, Jurusan FKIP Bhs. Inggris);
  3. Selfi Sudirman (Mahasiswa Semester 8 Universitas Cokroaminoto Palopo, Jurusan FKIP Bhs. Inggris);
  4. Rini (Mahasiswa Semester 4 Universitas Cokroaminoto Palopo, Jurusan FKIP Bhs. Indonesia);
  5. Nurul Khatimah (Mahasiswa Semester 4 Universitas Cokroaminoto Palopo, Jurusan FKIP Bhs. Indonesia);
  6. Nindi (Mahasiswa Semester 4 Universitas Cokroaminoto Palopo, Jurusan FKIP Bhs. Indonesia);
  7. Murdianto (Mahasiswa Semester 8 Universitas Cokroaminoto Palopo, Jurusan FKIP Matematika);
  8. Diah (Mahasiswa Semester 6 Universitas Cokroaminoto Palopo, Jurusan FKIP Matematika);
  9. Windi (Mahasiswa Semester 4 Universitas Cokroaminoto Palopo, Jurusan FKIP Matematika);
  10. Dian Eka Febriani (Alumni Poltek UNHAS/ pengajar di salah satu BIMBEL di Kota Palopo).

Di hari ke3 sebelum melangkahkan kaki pulang ke rumah masing-masing, kami menyempatkan ke Air Terjun Siguntu yang letaknya tidak jauh dari Lokasi pendidikan, Air terjun ini masih belum terlalu ramai karena akses ke lokasi ini masih agak tertutup dan jalannya yang lumayan menantang dan sementara dalam tahap pembangunan, serta ekspose yang kurang dari masyarakat maupun Pemerintah.

Padahal jika dibandingkan dengan Air Terjun latuppa, Air Terjun Siguntu ini mungkin masih lebih bagus untuk dijadikan tempat Liburan Keluarga



Dengan adanya Pendidikan #3 ini, menambah semangat kami untuk berdedikasi  di dunia Pendidikan Indonesia, karena ternyata masih banyak teman-teman yang ingin berbuat walaupun itu kecil. Dan harapan kami ke depan semoga kita para Pemuda baik dari Organisasi manapun setidaknya dapat meluangkan waktunya untuk terjun ke masyarakat secara langsung karena selain sebagai proses pembelajaran juga dapat dijadikan pengalaman hidup kedepannya.

Inilah kami para Pemuda dengan sejuta Mimpi yang ingin Mewujudkan Pendidikan di Indonesia Menjadi lebih Baik.

"MENJADI INDONESIA"
TRIP TROOPER
PALOPO
Palopo, 11 April 2017

Jumat, 25 November 2016

DROP BUKU KE DUSUN TOLETOLE DESA KAWATA KEC.WASUPONDA KAB. LUWU TIMUR




 
 (bersama murid Kelas jauh SDN 245 Toletole)
oleh : Arvan TR

Disela sela kesibukan saya menyusun thesis S1 saya, beberapa kesibukan kecil yang sedikit menghasilkan, tapi semua kesibukan  itu tidak menjadi kendala untuk melakukan kegiatan sosial karena pada dasarnya kita adalah makhluk sosial,khususnya kegiatan kegiatan sosial pada sosial kependidikan untuk desa terpencil/tertinggal seperti yang kami lakoni sekarang  dalam naungan sebuah komunitas sosial pendidikan yang biasa kami sebut TRIP TROOPER dan tetap juga memikirkan kegiatan kegiaatan ssosial lainnya. Kesadaran akan pentingnya pendidikan mendorong saya lebih semangat untuk berbuat lebih terhadap dunia pendidikan di desa desa terpencil. Karena sadar bahwa pendidkan adalah gerbong menuju kehidupan yang lebih baik dengan memperjuangkan hal hal terkecil hingga hal hal terbesar yang normalnya akan dilewati setiap manusia. Pendidikan adalah bekal untuk mengejar semua yang ditargetkan oleh seseorang dalam kehidupannya sehingga tanpa pendidikan, maka logikanya semua yang diimpikannya akan sangat sulit untuk dapat di wujudkan. 

 



(jalan menuju kelas jauh SDN 245 toletole)
Faktanya memang tidak semua orang yang berpendidikan sukses dalam perjalanan hidupnya, tetapi jika dilakukan perbandingan maka orang yang berpendidikan tetap jauh lebih banyak yang bisa mengecap kesuksesan daripada orang yang tidak pernah mengecap pendidikan baik pendidikan formal maupun nonformal. Pendidikan adalah alat untuk mengembangkan diri, mental, pola pikir dan juga kualitas diri seseorang.
Jika orang yang dibekali ilmu saja sudah terbukti masih ada atau bahkan banyak yang mengalami kegagalan, lalu bagaimana dengan mereka yang tidak dengan mereka yang tidak dibekali ilmu sama sekali? Logikanya sudah pasti mereka akan lebih kesulitan dalam mengembangkan  hal hal yang diminatinya dengan tujuan untuk mendapatkan level kehidupan yang lebih baik. Proses hidup membutuhkan teori, dan dengan pendidikanlah sebagaian besar teori tersebut di dapatkan.
Jangan meyakini opini sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Apapun alasannya, setiap orang tetap mebutuhkan pendidikan. Meskipun pendidikan tidak menjamin kesuksesan seseorang, namun pendidikan akan membekali anda kualiotas diri yang lebih baik sehingga anda akan lebih berpeluang untuk mendapatkan apa yang anda cita citakan. Pendidikan merupakan alat terpenting untuk merealisasikan semua impian anda. Pendidikan adalah prioritas untuk menuju kearah yang lebih baik, dan masa depan yang lebih layak buat anda.
Oke, saya pikir cukup untuk pengantarnya tentang pentingnya pendidikan bagi masa depan

Drop buku kali ini di Bumi batara guru tepatnya di Desa Kawata Kecamatan Wasuponda Kabupaten Luwu Timur. Saya belum ada gambaran jelas tentang desa kali ini,apapun tentang desa ini saya tidak mengetahui apa apa kecuali tentang daearah luwu timur yang banyak petani mericanya. Hehehe. Tanggal 18 November 2016 sesuai yang dijadwalkan saya dan 7 volunteer trip trooper lainnya akan berangkat ke Desa kawata. Semua perlengkapan yang dibutuhkan selama perjalanan dan proses kegiatan telah disiapkan dan yang paling penting buku buku bekas layak baca hasil sumbangan dari masyarakat yang akan kami drop ke sekolah di desa kawata telah disiapkan dan di packing jauh sebelumnya. Semua berjalan lancar,Tepat pukul 14.00 kami bertolak dari kota palopo dengan semangat yang luar biasa dan Alhamdulillah cuaca pada saat itu mendukung, namun sial menimpa kami di perjalanan  salah satu dari kami mengalami kecelakaan di Baebunta, Sebut saja Edi yang berboncengan dengan sebut saja susan menabrak sebuah mobil yang berada di depan yang melaju memang agak lambat dan selain menabrak mobil ia juga menyenggol motor volunteer lainnya sebut saja Dermawan sehingga motor Dermawan menyenggol motor sebut saja Amriani salah satu volunteer juga sehingga motor amriani jatuh karena si amriani tidak bisa lagi menahan beban motornya meskipun badannya lebih besar daripada motornya sendiri hahaha. Semuamnya baik baiknya saja tidak ada yang luka atau kerusakan pada motor kami tapi mobil yang di tabrak mengalami kerusakan dan sepertinya kami akan ganti rugi hahaha. Setelah semua masalah selesai kami melanjutkan perjalanan, lumayan menyita waktu juga musibah ini tapi tak apalah semua sudah ada yang atur pasti ada hikmah dibalik semua itu. Sebenarnya dari kami belum ada yang lihat desa kawata karena volunteer yang sebelumnnya obeservasi tidak ikut karena ada sedikit urusan, untungnya ada warga desa kawata sebut saja Wawan yang menunggu kami di Tarengge yang merupakan kerabat salah dari volunteer yang terlebih dahulu melakukan observasi. Pada pukul 17.00 kami tiba di tarengge tempat saudara Wawan menunggu kami. Kami beristrahat sejenak bersama bro wawan  dan beberapa menit kemudian kami melanjutkan perjalanan pastinya bersama dengan bro wawan yang akan menjadi penunjuk jalan. Sebelum tiba di malili malam sudah tiba dan saya harus menyesuaikan motor saya di belakang motor yang lainnya karena motor saya lampunya tidak menyala,motor teman maksudnya bukan motor saya kebetulan saja saya yang bawa dan bonceng teman itu,uhuuukkk. Sekitar satu jam perjalanan kami tiba di malili dan langsung menuju ke desa kawata, belok kiri setelah jembatan malili, jalanan yang berbelok belok, tikungan tajam, bebatuan lepas menjadi tantangan tersendiri bagi saya dengan mengenderai motor tanpa lampu,dengan mengandalkan lampu motor teman dari belakang dan blits hp samsung J1 Acenya boncengan alias yang punya motor tak berlampu sedikit mempertajam penglihatan. Namanya juga desa yang jauh dari keramaian tanpa lampu penerangan jalan. Sedikit informasi bahwa selama 3 hari nanti kami tidak akan bisa menggunkan HP untuk berkomunikasi,main sosmed dll, karena di lokasi ini tidak ada jaringan meskipun sudah ada listrik/PLN. Kurang lebih satu jam perjalanan kami tiba dirumah pak desa kawata dan buummm sebelum Turun dari motor tiba tiba listrik padam,tapi tak lama kemudain listrik kembali menyala. Kami di terima langsung oleh Bapak Desa kawata Pak Baharuddin denga baik. Kami kemudian menjelaskan maksud serta kegiatan kegiatan sosial kependidikan yang akan kami lakukan selama berada di desa kawata. Bapak kepala desa sangat mengapresiasi maksud kedatangan kami yang dengan keikhlasan berbagi datang untuk berbagi kepada sedikit pengetahuan kepada murid murid Sekolah dasar dan siswa siswa SMP yang ada dikawata. Kamipun pamit ke bapak kepala desa dan terus kerumah bro wawan karena sesuai rencana awal kalau selama kegiatan kami akan tinggal dirumah wawan sekitar 500 meter dari rumah kepala desa.
foto depan rumah tempat kami tinggal selama di desa Kawata, Bersama Bro wawan kedua dari (kanan)

Setibanya dirumah wawan kami disambut oleh orang orang yang sangat ramah,kami kemudian istrahat sejenak sambil bercerita dengan orang tua wawan beberapa menit kemudian kami di panggil makan ternyata kami sudah disiapkan makanan. Makan bersama volunteer trip trooper di desa kawata dusun tole tole memberikan kesan yang tidak terlupakan. Keluarga baru,teman baru,cerita baru,pengalaman baru. Desa kawata desa pelososk yang penuh dengan keramahan. Desa kawata yang berada di kecamatan wasuponda yang pada tahun 1965 ini hanya pimpin oleh kepala kampung bukan kepala desa,diadakannya pemilihan desa pertama pada tahun 1967 dan pada saat itu ad 3 tiga dusun yang memilih yaitu dusun tole tole, dusun laoreha,dusun kawata, sampai pada tahun 2016 desa kawata sudah 10 kali berganti kepala desa dan yang menjabat sekarang yang baru di lantik Pada tanggal 6 November 2016 setelah terpilih pada 12 Oktober 2015 oleh bupati luwu timur.
Bersama Kepala desa Kawata Bpk. Baharuddin (Baju Batik) dan Bhabinkamtibmas Bripka Naftalian (seragam polisi) 


Setelah makan malam saya dan yang lain istrahat lagi sejenak,kemudian rapat untuk agenda besok sebelum tidur. Berdasarkan hasil rapat malam itu kalau kami akan terlebih dahulu membawa buku serta mengajar di kelas jauh SDN Tole tole,menurut informasi jalanan ke atas itu cukup ekstrim dan setelah itu kami akan melanjtkan ke SMP Kawata. Setalah rapat kami pun tidur


Pagi pun tiba, saya langsung mempersiapakan diri begitu pula teman yang lain. Semua yang akan kami bawa ke kelas jauh SD Tole tole termasuk buku buku bekas layak baca sudah dipersiapkan, setelah sarapan kami pun berangkat. Setelah beberapa meter dari rumah kami disambut oleh track yang cukup ekstrem tapi itu terkalahkan oleh semangat saya serta yang lain untuk bertemu adek adek di kelas jauh SD Tole tole. Jalanan yang cukup ekstrem sampai di sekolah,kurang lebih satu jam kami tiba dilokasi dan terima langsung oleh guru yang ada pada saat itu karena kepala sekolah ada di sekolah induk. Kamipun menjelaskan lagi maksud kedatangan kami dan sangat diterima baik oleh guru guru di sekolah. Terdapat 5 kelas di kelas jauh ini dari kelas satu sampai kelas lima untuk kelas enam melanjutkan disekolah induk yang lumayan jauh. Dikelas jauh ini sangat kekurangan buku apalagi tidak ada perpustakaan di sekolah ini. Kami pun mengambil alih kelas pada saat itu setelah diizinkan oleh guru guru, kami membagi diri ada yang mengahandel kelas 1 dan 2 yang di gabung serta kelas 3,4 dan 5 yang digabung. Kami bermain sambil mengajar. Terdapat 48 murid dikelas jauh ini. Bangunan sekolah yang bagus namun tidak didukung oleh kelengkapan kelengkapan yang memadai. Setelah mengajar dan memberikan games kami kemudian membagikan buku yang kami bawa. Kebahagiaan yang sangat luar biasa bisa membuat adek adek di kelas jauh sd tole tole tersenyum lebar. Setelah semua agenda selesai kamipun menyempatkan diri untuk foto bersama sebelum pamit pulang untuk melanjutkan ke SMP Kawata.

foto bersama Bpk.Mintoro, S.Pd.,Sd Kepsek SDN 245 Tole tole (kaos berkerah orange), beserta guru2

                                                 proses belajar mengajar di dalam kelas

Setelah itu kami pamit ke kepala sekolah karena kebetulan pada saat kami sementara mengajar bapak kepala sekolah datang bersama beberapa guru lainnya. Kami melanjutkan perjalanan ke SMPN 2 Wasuponda yang terletak di dusun Toletole desa Kawata.

                    (Bersama Bpk.Jacob Arnoldus, S.Pd (baju batik) Kepsek SMPN 2 Wasuponda)
                                                  foto bareng murid SMPN 2 Wasuponda
 proses belajar mengajar yang kami berikan dikelas kelas SMPN 2


setelah mengajar di sekolah, kamipun kembali kerumah bro wawan untuk break sejenak dan melanjutkan kegiatan pada pkl. 15.30 wita bersama murid2 SMP di sanggar tani, dimana pada kesempatan inilah kami belajar, bercerita dan bermain kami memberikan sedikit games yg tentunya kami memberikan hadiah hiburan, walau tidak seberapa.
















setelah malam datang, kamipun kembali flashback tentang kegiatan yang kami laksanakan tadi, kemudian makan malam bersama pemilik rumah bercerita sedikit tentang desa dan tidur.
Minggu, 19 November 2016 kami sudah bersiap siap untuk kembali ke Palopo,setelah berpamitan dengan orangtua wawan, kamipun bersiap pulang namun bro wawan mengajak kami untuk refreshing ke airterjun Matabuntu yang terletak di Kecamatan wasuponda. yang susunan airterjunnya cukup unik.


 
Air Terjun Mata buntu Kec.Wasuponda kab. Luwu Timur

itulah sedikit dari sekian banyak hal yang bisa z deskripsikan dari program drop buku Trip Trooper kali ini, semoga tahun depan kami masih bisa berbuat di desa yterpencil lainnya, Amin....
TRIP TROOPER
#menjadiIndonesia